Kangen PMP & PSPB

Kalau sekolah tahun 90-an, pasti tahu pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Macam-macam belajar tentang moral yang sesuai dengan Pancasila, mulai dari istilah tenggang rasa, tepa selira, toleransi, budi pekerti, saling menghormati, dll.

Saya kangen lo sama pelajaran itu. Kalau zaman sekarang, belum tentu semua anak tahu apa itu dan bagaimana bersikap tenggang rasa, tepa selira, dkk. Jadinya sekarang banyak anak muda yang kurang menghormati orang tua, guru, dan orang yang lebih tua.

Ada juga PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa). Benar-benar kita tahu gimana sih namanya memperjuangkan kemerdekaan itu, mengenal pahlawan-pahlawan lokal, pahlawan dari daerah lain.

PMP & PSPB hilang berganti PKn. Rasanya ada sesuatu yang hilang gitu. Kadang kalau anak-anak ditanya apa itu ikhlas, banyak yang tidak tahu jawabannya. Diminta contoh sikap toleransi, juga kurang tahu. Pasti berpengaruh pada tingkah laku anak setiap hari.

Dulu jadi siswa baru dikasih penataran P4, sekarang berganti ospek, banyak calon siswa baru yang meninggal. Mbok ya ospeknya yang bermanfaat gitu, jangan memaksa kondisi fisik seseorang ada di ambang batas, apalagi sampai main tendang/pukul.

Berpengaruhkah pada moral anak semua pelajaran di sekolah? Ya tentu lah. Kalau mengenal istilah-istilah dalam hidup bermasyarakat, pasti bisa menempatkan diri pada porsinya, dan bisa menghormati orang laidiadakan lagi pelajaran PMP & PSPB itu?

 

 

Sampingan

Mengenang Rakit-rakit Kayu

Dulu, sekitar tahun 1996an, perusahaan kayu sedang jaya-jayanya. Waktu itu saya masih SMP, ketauan banget udah tua ya, hehehe. Hutan masih full, seiring berjalannya tahun, kayu makin habis dan sekarang hanya sisa bangunan perusahaannya yang ada. Kalaupun ada yang masih beroperasi, itu hanya skala kecil, tidak seperti dulu.

Dulu, begitu lulus SMP, teman-teman banyak yang langsung melamar bekerja di pabrik kayu itu. Pokoknya, pabriknya banyak banget di Banjarmasin. Mereka lebih memilih untuk bekerja di pabrik, menerima uang gaji setiap bulan, daripada melanjutkan sekolah. Akhirnya, setelah pabrik-pabrik itu tutup, mereka juga ikut kalang-kabut ketika gaji mulai tidak dibayar. Ada yang balik lagi bertani, bagi yang punya keahlian langsung loncat cari kerjaan lain, yah…masing-masing lah. Namanya juga perusahaan bangkrut.

Dulu, sewaktu sekolah itu, saya tinggal ikut mbah, jadi bagian dari masyarakat pinggir sungai. Hampir setiap hari rakit kayu gelondongan lewat di depan rumah mbah. Sering juga waktu malam rakit-rakit itu lewat, cahaya lampu minyak di atas kayu itu meliuk-liuk tertiup angin, tapi tidak mati. Dari kejauhan bagus banget. Sementara tugboat-nya, menggunakan lampu sorot yang sangat terang untuk melihat kondisi sungai di depannya.

Entah berapa kilometer panjangnya rakit kayu gelondongan itu. Batang-batang kayu yang masih berupa gelondongan besar disambung dengan menggunakan tali besar, sampai tersusun rapi, ditarik sebuah tugboat, kadang ada dua tugboat yang menarik dari depan, kadang ada yang menjaga di ujung rakit kayu.

Orang-orang yang menjaga kayu-kayu itu tetap pada jalurnya itu hebat, menurut saya. Lincah meloncat dari satu kayu ke kayu lain tanpa takut terpeleset. Apalagi kalau lagi hujan atau ketika malam hari, pasti cuaca tambah dingin. Tidak semua orang lho bisa mengerjakan pekerjaan itu.

Ketika rakit-rakit itu lewat, gelombang menyapa pinggir sungai. Bertahun-tahun terkena gelombang kapal laju penumpang, speed boat, tugboat, akhirnya tanah pun ter-erosi, jalan mulai terputus dan berganti jembatan. Jalan utama yang dulu ada di pinggir sungai,di depan rumah langsung berbalik arah di belakang rumah. Pintu-pintu depan rumah penduduk juga ikut berubah dan berbalik arah jadi pintu belakang. Sedangkan bagian belakang rumah, dirombak untuk menjadi depan rumah.

Dulu, masih sering terdengar penjaja ikan yang melintasi sungai dengan menggunakan kelotok, sejenis perahu kecil bermotor, tapi sekarang sudah diganti dengan sepeda motor. Masyarakat berubah, kehidupannya juga berubah, lingkungan juga ikut berubah.

Kayu-kayu besar habis, perusahaan tutup, bangkrut, PHK dimana-mana. Ah, banyak lah teman-teman saya yang sempat jadi pengangguran ketika itu. Sekarang, apa kabarnya ya mereka? Ketika pulang kampung pun, jarang sekali terlihat orang-orang yang saya kenal. Pasti mereka sudah masing-masing merantau.

Rakit-rakit kayu itu adalah kenangan ketika perusahaan kayu sedang jaya. Ah ya, dulu, di depan rumah mbah ada sebatang pohon rambai di pinggir sungai. Pohonnya cukup besar. Kalau malam baru terlihat indahnya, kenapa? Karena puluhan kunang-kunang terbang di antara dedaunan dan ranting pohon rambai. Pernah lihat kunang-kunang tidak?

Sekarang, kunang-kunang hanya tinggal kenangan. Mereka sepertinya sudah enggan muncul di depan manusia. Sepertinya mereka jauh di dalam hutan karena lingkungan yang berubah. Anak-anak sekarang mungkin tidak akan melihat kunang-kunang berkerlipan di pepohonan, di dekat mereka. Mereka melihat kunang-kunang melalui buku, tivi, kartun, film. Sayang sekali, tidak ada foto untuk sungai yang dulu menjadi jalan bagi rakit-rakit kayu itu. Karena saya sudah tidak melewati sungai itu lagi. Rute pulang kampung saya berubah, bukan lagi melewati sungai dalam, tetapi melintasi alur barito yang dilintasi “mangkuk” penuh berisi dengan emas hitam. Lain kali saya ceritakan tentang alur barito ini ya.

Telepon Penipu

Ceritanya beberapa hari yang lalu, hp saya kedatangan nomor tak dikenal, mengatasnamakan pihak Telkomsel (biasalah mau tipu-tipu). Lah ya maghrib kok telepon, mbok ya pinter dikit nelponnya jangan pas di wilayah saya lagi adzan. Singkat cerita, telepon pun diangkat, saya kasih ke suami yang baru pulang kerja.

Suami    : Halo, siapa ini?

Penipu  : Mohon maaf, dengan Bapak siapa saya bicara?

Suami    : Bapak …..

Penipu  : Oh iya, begini pak, kami mengadakan undian…bla…bla…bla…setelah melalui pengundian ternyata nomor hp bapak yang keluar. Bapak adalah pemenang ketiga dengan hadiah uang tunai sebesar 15juta rupiah. Bla…bla…bla…

Suami ho-oh aja dengerin penipu nyecret sendirian di seberang.

Penipu  : Bapak punya rekening bank?

Saya bisikin suami, supaya jangan kasih tahu.

Suami    : Punya.

Penipu  : Bank apa, pak?

Suami    : Bank …..

Penipu  : Kalau begitu bisa bapak pergi ke ATM untuk mentransfer uang pajaknya sekarang?

Bener-bener pinter tingkat dewa ni penipu! Gila aja disuruh ngeloyor ke ATM, dipikir ATM ada di dapur gitu?! Nipu kok ketauan banget!

Suami    : Waduh, saya baru pulang kerja. ATMnya jauh.

Penipu  : Berapa jam, pak?

Suami : 3 jam.

Penipu  : Kalau besok pagi transfernya gimana, pak? Besok saya hubungi lagi.

Suami    : Nggak bisa. Saya kerja dari pagi sampe maghrib.

Penipu udah mulai ilfil nih bicara, nggak se-nyecret seperti di awal pembicaraan.

Penipu  : Bapak kerjanya dimana?

Suami    : Saya kerja di sawah.

Gubrakk!!! Saya cekikikan denger penipu yang mulai berubah nada bicaranya. Mungkin dikiranya kami ini jutawan yang punya banyak uang.

Penipu  : Kalau Bapak tidak mentransfer, hadiahnya kami batalkan.

Suami    : Ya udah batalin aja.

Penipu  : Baik, pak. Hadiahnya kami batalkan. (suaranya lemes)

Huahahaha! Memang sih, tertawa di atas kesusahan dan penderitaan orang lain itu gak boleh dan gak baik. Tapi untuk kali ini, boleh lah ya. Daripada penipunya yang tertawa gegara dapet duit sekian juta.

Penipu yang seperti itu banyak. Banyak juga korbannya. Itu sebabnya, kita harus hati-hati kalau ada telepon dari pihak-pihak tertentu yang menyatakan bahwa kita menang undian. Jangan sampai menyesal karena keteledoran, jadi hilang duit hasil kerja keras kita. Apalagi kalau udah hipnotis, yah…mudah-mudahan para pelaku penipuan kayak gini bisa ditangkap, lebih bagus kalau insyaf.

Duit halal itu berkah walaupun sedikit. Duit banyak tapi cara dapetinnya gak halal, ya ngalir aja kayak air kelapa basi yang dibuang.

Jangan sampai rajin nipu orang dan rajin kerja (ngerjain orang). Tega gitu ngasih makan keluarga pake duit yang gak halal? Jangan lah ya, kasian keluarganya. Masa gak malu sama orang yang cacat fisik, renta tapi masih semangat kerja. Cacat, tua, atau apapun gak menjadikan mereka patah semangat. Gak memasukkan penipuan, mengemis, minta sumbangan, dll ke dalam daftar pekerjaan yang akan mereka lakoni.

Saya salut dengan mereka yang secara lahiriah memiliki kekurangan namun pantang untuk menipu dan mengemis. Berapapun yang didapat dari cara yang halal, maka syukuri, Alhamdulillah masih ada rezeki di hari ini.

Biasanya, seseorang yang sadar sedang mendapat telepon penipuan bisa saja malah balik ngerjain si penipu karena yang menelepon kan si penipu, maka yang kehabisan pulsa ya si penipu.

Ada yang pura-pura pergi ke ATM, terus tiba-tiba bikin alasan gak bisa transfer dan akhirnya si penipu mencak-mencak karena merasa dikerjain. Ada penipu yang kena sumpah serapah dari korbannya.

Ada yang didoakan gak baik. Nah lo, ini harus hati-hati karena doa orang-orang yang teraniaya itu cepet diijabah Allah. Siapa yang tahu, tiba-tiba Allah perkenankan doa yang tidak baik itu. Hayo loh…

Ada yang langsung mematikan teleponnya, ketika sadar bahwa penelepon adalah penipu. Tapi ada juga yang ngurut dada karena masih ada aja orang yang doyan nipu.

Apapun caranya, sebisa mungkin jangan sampai terkena penipuan apapun modusnya. Apalagi dengan modus menang undian, modus ini sudah jadi rahasia umum menjadi salah satu senjata pamungkas para penipu via telepon, selain dari penipuan lagi di rumah sakit atau di kantor polisi. Yuk, sama-sama waspada pada penipuan dengan segala macam modus.

Semoga para penipu itu cepet insyaf dan cari duit halal. Aamiin.

Pentingnya Harta Halal

Kemarin tetangga saya cerita tentang teman baiknya dan suaminya. Mereka pernah dimintai tolong untuk menjual madu, tapi barangnya dikembalikan. Tetangga saya bingung lah, barangnya dikembalikan tapi isinya udah banyak berkurang. Mereka beralasan bahwa madunya berkurang karena banyak yang mencoba. Tetangga saya nggak yakin, tapi dia diam saja. Oke-oke aja.

Lain waktu mereka dimintai tolong oleh orang lain untuk menjual sesuatu, saya lupa apa. Diperoleh uang sebanyak 450ribu rupiah, tapi si suami menyuruh istrinya untuk menyerahkan uang sebanyak 150ribu rupiah saja, dan sisanya mereka ambil. Si istri heran dan bertanya kenapa, tapi suaminya Cuma menyuruh diam.

Lain hari mereka dimintai tolong untuk menjual itik sebanyak 20 ekor, per ekor seharga 50ribu rupiah. Lagi-lagi uang yang diberikan berkurang. Dari cerita tetangga saya, sepertinya mereka sering berbuat demikian.

Menurut tetangga saya, tidak lama kemudian mereka punya motor baru, barang bekas tapi masih bagus, saya lupa kredit atau kontan, seingat saya dari cerita kemarin motor itu dibeli dengan cara kredit.

Suatu hari si istri datang ke rumah tetangga saya sambil nangis-nangis. Dia bilang motornya hilang. Lalu tetangga saya bilang, “Tu, hukum karma tu berlaku. Makanya jangan suka ngambil punya orang.”

Jadi, sekecil apapun, kalau bukan milik kita ya harus dikembalikan. Betapa mudah Allah ambil lagi barang yang sudah mereka beli, disebabkan harta yang mereka pakai bukanlah harta halal. Ini juga pelajaran buat kita, tanpa maksud menjelekkan siapapun, berbagi cerita nyata tentang pentingnya harta halal.

Harta halal, walaupun sedikit namun menjadi berkah bagi pemakainya. Sedangkan harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, harta itu cepat habis, membuat pemakainya buruk, dan membawa mudharat.

Semoga cerita singkat ini bermanfaat untuk kita semua.

(Resep) Paes Roti

Bahan:

1 bungkus roti tawar atau kulit roti

Santan kental dari ½ butir kelapa

¼ sdt garam

150 gr gula pasir

4 butir telur, kocok lepas

Pembungkus :

Gunakan daun pisang yang sudah dilayukan dengan dijemur atau dikukus. Pastikan daun pisang tersebut benar-benar layu untuk menghindari daun sobek/pecah saat proses pembungkusan.

Cara membuat:

  1. Campur santan kental, garam, dan gula dalam wadah. Aduk rata. Pastikan gula larut.
  2. Potong roti tawar atau kulit roti menjadi 4 atau 6 bagian.
  3. Masukkan 3 – 4 potong roti di dalam santan kental. Ambil 2 lembar daun pisang, letakkan potongan roti di dalam daun, lalu siramkan telur kocok. Lipat daun dengan hati-hati. Lakukan berulang sampai roti dan santan habis. Kukus kurang lebih 30 menit.

Rasanya kenyal-kenyal manis. Tapi maaf gak ada fotonya, udah lama bikin tapi saya gak foto-foto makanan. Selamat mencoba, bunda🙂

Menikmati Pindah Rumah

Pindah. Kalau ada satu kata itu pasti yang terbayang adalah ribet kemas-kemas barang, mesti menyusun lagi barang-barang di rumah baru, mesti kenalan lagi, mesti adaptasi lagi, mesti kaget-kaget lagi.

Pindah. Satu kata dan tindakan yang akrab dengan saya sejak kecil. Sewaktu kelas 1 SD, selama satu catur wulan, saya sekolah di dekat asrama, catur wulan 2 dan 3 di Magelang, berhubung almarhum bapak saya pendidikan di sana. Balik lagi ke Kalimantan, pindah ke sekolah yang agak jauhan dikit dari asrama.

Pindah berikutnya, sewaktu masuk SMP, cuma sempat 2 minggu aja sekolah trus pindah ikut Mbah, ke pedesaan, pisah dengan orang tua karena almarhum bapak dipindahtugaskan. Masuk SMU, balik lagi ikut orang tua. Kuliah, nge-kos dan jauh dari keluarga. Kerja juga begitu. Walaupun sering pindah, tapi masih seputaran Kalimantan Selatan kok, kecuali waktu SD aja.

Awalnya memang susah beradaptasi dengan teman-teman baru di sekolah. Berikutnya, saya senang-senang aja dapat teman-teman baru. Pindah, berkemas, susun ulang, adalah “keseharian” dalam hidup saya.

Ealah, selama menikah pun udah tiga kali pindah ini. Mengikuti penempatan suami, berhubung suami kerja di bidang pertambangan, jadi sering pindah-pindah deh. Kebayang lah repotnya angkut-angkut barang, pegel semua badannya.

Pindah ke daerah yang terdapat tambang itu gampang-gampang susah. Pertama, yang namanya sekitar daerah tambang, pastilah kondisi alamnya berubah. Salah satu yang paling terasa saat musim kemarau, susah dapat air, jadi harus berhemat air. Alhamdulillah, kami dapat rezeki air yang cukup dari Allah. Saat orang lain harus pergi mengambil air di tempat yang jauh atau ke sungai, air di rumah kontrakan kami cukup. Entah itu air PDAM yang tetap mengalir walau minim, atau sumur yang tetap berair walau sedikit. Yang penting masih punya air, dan air yang dipunya itu kudu dihemat. Alhamdulillah belum pernah kekurangan air, rezeki air lancer walau minim masih dikasih ke kami.

Kedua, tiga kali pindah bukannya dapat tempat yang menjual barang dan kebutuhan hidup dengan harga murah, malah lebih mahal. Daerah tambang gitu, jadi identik dengan gaji yang lumayan, padahal para istri di rumah pada mumet membagi uang ke posnya masing-masing. Kalau di kota, uang sepuluh ribu masih bisa dapat ikan sama sayur. Kalau di daerah yang banyak tambangnya seperti ini, dapat ikan ¼ kg aja udah Alhamdulillah banget. Untungnya, karena rumah kontrakan saya yang sekarang ini berada di kampungnya jadi orang-orang di kampung sini masih ada yang menanam sayur. Kadang saya ikut beli dua ribu atau tiga ribu rupiah, tapi sayurnya segar dan jauh lebih banyak dapatnya ketimbang di paman sayur. Kalau ada tetangga yang punya sesuatu untuk dibagi, Alhamdulillah dikasih juga. Banyak terimakasih yang terucap kalau tinggal di kampung, karena sering dikasih tetangga-tetangga.

Kaget betul waktu pindah ke daerah yang sekarang kami tempati. Perkotaan tapi ada tambang batubara besar dan tambang minyak, wuihhh…semakin lah jadi 2 kali lipat dari biasanya pengeluaran kami. Berhemat adalah salah satu solusinya, walaupun kadang solusi ini tidak berhasil, hiks. Terutama ketika musim durian tiba, murah banget. Ya…gak murah-murah amat sih, tapi ya masih kategori murah lah. Sudahlah, gak usah bahas durian, kasihan saya.

Balik lagi ke permasalahan khas ibu-ibu, seputaran sayur, ikan, dan sembako. Selisih harga sembako dan barang kebutuhan lain, bisa lebih dari dua ribu rupiah, bahkan selisih harga sandang bisa lebih dari 10-20ribu rupiah. Itulah sebabnya, kami jarang beli baju disini. Kalau pas cuti barulah beli baju, barang selembar saja.

Ketiga, perihal rumah kontrakan. Rumah kontrakan, rumah bidakan ya banyak. Tapi harganya gak semurah di kota. Di kota uang 300ribu saja masih bisa dapet sebuah rumah untuk dikontrak. Kalau disini, paling murah 500ribu, belum listrik yang naik terus tarifnya, jadi lebih dari 500ribu lah per bulannya. Kalau agak di pinggiran, masih di kampungnya, memang masih ada kontrakan yang murah tapi ya jauh dari sekolah, pasar, gak di tengah kotanya.

Kalau ngontrak rumah terlalu mahal itu sayang uangnya. Uang berlebih itu bisa dianggarkan untuk keperluan lain yang lebih penting. Jadi kalau cari rumah kontrakan ya cari yang harganya miring dan kebutuhan air terjamin.

Tapi ibu, hidup jangan banyak mengeluh. Jangan selalu melihat ke atas. Di atas langit masih ada langit. Kita hidup di tempat mahal, masih ada yang jauh lebih mahal lagi biaya hidupnya dari kita. Masih banyak lagi yang harus lebih berpikir keras untuk bagi-bagi duit. Apa yang didapat, apa yang dipunya, apa yang diterima, say Alhamdulillah. Masih ada rezeki kita untuk menikmati semua itu, walaupun harus berpusing-pusing ria.

Pindah itu sesuatu yang ribet namun menyenangkan. Dinikmati saja dimana kita berada, maka semuanya jadi lebih indah, tsaaahhh…. Sekian dulu pengalaman pindah saya, kapan-kapan saya ketemu lagi di rumah maya saya ini.


Hati Sang Samurai

“Tentu saja kau punya hati,” ucapku yakin.

Kau hanya tertunduk, masih meragukan ucapanku. Padahal yang aku ucapkan adalah sebuah kebenaran. Hembusan angin menerpa tubuh kokohmu yang rapuh. Dan aku hanya mampu memandangmu, hanya sanggup merasa dingin dalam dirimu karena rapuhmu. Kau menyangkal kebenaran bahwa kau masih memiliki hati dan selalu memiliki hati.

“Bagaimana kau yakin aku masih punya hati dan mempunyai hati?” kau menyanggah ucapanku.

Helaan nafasmu seolah melukiskan beratnya bebanmu, yang harusnya tidak pernah ada. Ini hanyalah masalah hati yang pasti kau miliki. Tapi entah kenapa dan darimana datangnya keraguanmu itu. Sepertinya aku memang harus memberi pengertian lagi padamu. Dingin dalam dirimu masih kurasakan.

“Kau tahu, setiap manusia pasti memiliki hati. Sedangkan hitam-putihnya hati itu tergantung pada yang memilikinya, bagaimana ia hendak menjadikan hatinya. Hitam atau putih. Termasuk juga dirimu. Hati adalah bagian tubuh manusia yang amat peka dan sangat perasa. Hati bisa merasa sakit, kecewa, senang, sedih, marah, benci. Semua itu bisa dirasakan hati dalam waktu yang berbeda, beriringan, bahkan bersamaan.” Aku berhenti sejenak dan menikmati dingin dirimu.

Matamu menatap kosong di antara hembusan angin yang beku. Aku tahu semua ini hanya ketakutanmu, hanya keraguanmu yang terlampau banyak muncul dalam dirimu hingga mempengaruhi hatimu. Hingga kau tak bisa merasa hangatnya orang-orang di sekelilingmu.
Kau membiarkan dirimu terkurung dalam sesuatu yang tidak seharusnya ada.

“Kalau kau tak memiliki hati, maka kau tidak akan mampu mengatakan kebenaran. Kau tidak akan mampu menghunuskan pedangmu pada kesalahan. Kau akan membiarkan kesalahan dan kejahatan merajalela. Tapi kau tidak. Kau berani mengatakan kebenaran, kau berani melawan jika kau tahu yang kau hadapi adalah musuh dan tidak bisa lagi kau tolerir. Itu salah satu tanda kau memiliki hati.” Kuhembuskan beban bersama nafasku yang mengembun dalam dirimu. Seandainya kau tahu bahwa semua itu tidaklah cukup untuk menghidupkan hatimu.

“Tapi mengapa aku merasa kosong? Kau tahu bahwa aku adalah seorang pejuang, seorang samurai. Tapi mengapa aku juga tak bisa melindunginya, mengobati lukanya, dan membawanya pada bahagia? Hanya satu orang itu saja yang tak bisa kutolong.” Dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah kau mengatakan itu.

Angin beku dari dirimu masih memelukku, dingin. Padahal kau tahu bahwa aku perlu kehangatan. Aku perlu mentari untuk menghangatkan diriku sendiri. Kau selalu menjadikanku pelabuhanmu untuk berkeluh kesah, kau hanya ingin aku mendengar sisi lemah seorang samurai. Tapi kau tak pernah peduli padaku. Kau hanya peduli pada dirimu.

“Itu semua adalah kesalahanmu.” Jawabku kesal. Kau terkejut mendengar aku menyalahkanmu. Dan kau menatap tajam diriku, mencari kesungguhanku dalam ucapanku.

“Tak perlu kau menatapku begitu. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya. Kau bisa mengatakan kebenaran pada orang lain, tapi kau tak bisa mengatakan kebenaran pada dirimu sendiri. Kau tahu mengapa kau merasa kosong dan hampa? Itu karena kau tak bisa jujur pada dirimu sendiri tentang semuanya.” Aku menatap kesal padamu.

“Aku ini hatimu. Tapi kau tak pernah menganggapku ada. Kau hanya membuatku jadi pendengarmu, hanya jadi tempat berkeluh kesahmu, hanya merasakan dingin dan bekumu. Padahal kau jelas tahu bahwa aku juga perlu udara untuk bernafas, perlu mentari agar hangat. Tapi kau tak pernah peduli akan aku, hatimu. Kau hanya peduli pada sepimu.” Kuluapkan segala kekesalanku padamu, aku sudah tidak bisa menyimpannya.

“Tapi aku tak pernah membuatmu begitu. Kau bilang aku memiliki hati, dan itu artinya aku memilikimu,” kau mulai marah.

Aku membuang muka darimu. Aku benci sorot matamu yang angkuh itu. sorot mata yang tak ingin mengakui kesalahan. “Kau memang memiliki aku, hatimu. Tapi kau tak memiliki kepekaan padaku. Kau hanya peduli dirimu sendiri.”

Hening sesaat. “Kau tahu kenapa kau tak bisa menolong ia yang terluka itu?” tanyaku dingin. Kau hanya terduduk menjawab pertanyaanku, hanya sebuah gelengan lemah. Senyumku sinis menertawakanmu.

“Kalau ingin menolongnya, lakukan dengan ikhlas. Tanpa mengharap imbalan apapun. Kau menolongnya tapi kau hanya menambah lukanya. Ia membutuhkanmu sebagai seorang samurai yang memiliki aku, hatimu. Bukan seorang samurai yang hanya bisa mencari alibi untuk membela diri. Kau tak ingin membiarkannya pergi, tapi kau tak berupaya mencegahnya. Akui saja kalau kau memang menginginkannya terus berada di sisimu selamanya.” Lagi-lagi kau hanya tertunduk merenung.

“Belajarlah jujur pada dirimu sendiri dan belajarlah menerima hangat dari orang-orang di sekitarmu. Samurai memang seorang pejuang. Tetapi setiap pejuang dan setiap samurai juga memiliki hati dan menggunakannya untuk membantu mereka melakukan apa yang mereka yakini benar. Begitu juga kau. Kau perlu aku, hatimu. Tapi aku juga perlu kau untuk membuatku tetap hidup. Apa kau mengerti dengan semua yang kuucapkan?” Akhirnya aku melihat anggukan kepalamu itu.

Perlahan kau tengadahkan wajahmu ke langit biru dan menatap awan-awan yang berkejaran dihembus angin. Perlahan aku mulai merasakan hangat dalam dirimu, dan aku sudah tidak merasa dingin lagi. Kau mengerti dengan semua ucapanku, benar-benar mengerti.

“Apa kau merasa lebih baik sekarang?” Tanyamu lembut.

“Yah, aku merasa lebih baik sekarang. Aku merasa mendapat nyawa baru karena kau biarkan hangat itu mengalir dalam dirimu, hingga aku pun merasakannya. Kau memang seorang samurai.” Aku tersenyum menatapmu.

“Aku akan pergi menolongnya. Semoga belum terlambat….” Kau bergegas pergi menuju ia yang terluka, yang menunggu pertolongan. Aku bisa merasakan semangatmu untuk menolongnya. Kau berlari seiring dengan hembusan angin. Secepat kuda yang tengah dipacu dan kokoh laksana gunung. Tetapi….

Ah, kau terlambat samuraiku. Ia telah pergi. Ia telah dijemput dan ditolong oleh samurai lain. Seorang samurai yang meyakini hatinya. Hanya sisa-sisa lukanya yang tertinggal di tempat ini, samuraiku….

“Aku terlambat…” Kau terduduk lemah di atas kedua lututmu. Aku pun dapat merasakan pedihmu. Tapi ini semua adalah kesalahanmu, karena kau tak pernah meyakini hatimu. Karena kau meninggalkannya di sini sendiri. Karena kau membiarkannya pergi. Karena kau tak pernah jujur pada dirimu sendiri.

***

 

4isyah_4ulia
Asam Asam, 23 Juli 2009

Previous Older Entries

Follow Sp0ngew4ter's Blog on WordPress.com
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 723 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: