“Apa itu senja?” Tanyamu kala itu. Di sore yang lembut, saat segerombolan burung terbang pulang melintasi jarak mata memandang.
Saat itu aku hanya tersenyum karena kau tidak tahu apa itu senja. Kau tahu, aku tidak tahu bagaimana awalnya sampai aku sangat mencintai senja, aku menyukainya, dan aku menantinya setiap hari dengan keyakinan akan ada senja yang indah setelah pagi.
Yang aku ingat saat pertama kali aku mengenal senja adalah saat aku berkenalan dengan garis-garis halus nan lembut di ujung pandangan ketika tubuhku sepenuhnya menghadap ke barat. Waktu itu aku duduk di atas hamparan pasir putih pantai sambil mendengarkan hempasan ombak di antara karang dan riak-riak kecil yang menyentuh pantai. Dan diantara angin yang berhembus sedikit kencang aku berkenalan dengan senja.
Kau tahu, ia menyapaku lewat cahaya oranye di ujung biru, oranye yang bersahaja. Sangat lembut. Dan ia memerahkan biru yang meredup perlahan disapa malam. Sementara bola kemerahan besar perlahan mulai setengah bulat sempurna diantara batas dua biru.
Itulah pertama kali aku berkenalan dengan senja yang membuatku tetap betah berlama-lama disini menunggunya selama bertahun-tahun. Yah…hampir sepuluh tahun sudah aku terus menanti senja disini, di tempat yang sama. Kau tahu, itu sama rasanya seperti menghitung umur yang perlahan menyempit diantara dosa-dosa yang menumpuk.
Ah, karena begitu cintanya aku pada senja…aku pun menyebutnya senja-ku. Ia yang bertemu denganku ketika senja menyapaku dalam oranye yang bersahaja. Ia yang mengajariku untuk melewatkan senja dalam tadabbur dan muhasabah diri. Dan ia yang memanggilku dengan sebutan “pagi-ku”.
“Lalu, dimana senjamu sekarang?” Tanyamu lagi.
Tidak ada. Senjaku telah pergi dariku beberapa tahun yang lalu tanpa kabar, entah dimana ia sekarang. Aku merindukan senja dimana ia berdiri di sampingku dan mengajakku membentangkan tangan seluas-luasnya, membiarkan cahaya oranye bersahaja itu menimpa lembut wajah kami.
“Dan untuk apa kapal-kapal kertas itu?” Lagi-lagi kau bertanya pelan, hanya darah di dalam diriku yang mendengar pertanyaanmu. Tidak burung-burung, tidak pula angin yang sedari tadi menemaniku disini, tidak juga deburan ombak yang menyentuh garis pantai.
Hari ini adalah hari jadinya dan di setiap hari jadinya, kami selalu melipat kertas-kertas bertuliskan “senja dan pagi” di sini, lalu melepaskan kapal-kapal kertas itu di garis terluar pantai, berharap senja itu adalah sebuah harapan baru.
Dan saat ini aku akan melakukan hal yang sama, sendirian tanpa senjaku. Aku berharap di sudut lain barat, ia pun akan melakukan hal yang sama dan ia akan menemukan satu diantara seratus kapal kertasku di garis batas oranye yang lain.
Kau tahu, hatiku…ini adalah kali keempat di hari jadi senjaku, aku melepaskan kapal-kapal kertas itu sendirian. Dan berharap pesan yang diantar kapal-kapal kertas itu sampai padanya walau hanya satu kapal saja. Dan aku berharap agar kelak aku juga menemukan kapal kertas miliknya di sini.
Selamat hari jadi, senjaku. Oranye bersahaja itu tidak akan pupus kecuali bola merah itu terbit di arah yang berlawanan dan sangkakala telah ditiupkan.
Aku mengakhiri dialog hatiku senja itu dengan menghanyutkan satu per satu kapal-kapal kertas yang telah susah payah kubuat. Kau tau, senja…hatiku menemaniku disini. Ia hampa karena kau tak ada.
…………
Dan lukislah senja
“ku” dalam oranye yang bersahaja
***
nb: diikutkan dalam Lomba Ultah untuk Senja milik seorang teman di Facebook.
